“Yah, yah tak gawani tlemos ojo ndang ucul, ojo ndang budal yo” kata Aulia. Aulia anak pertamaku, dia masih berumur 3 tahun, dialek dalam berkomunikasi selalu memakai bahasa Jawa “Medhok”. Maksudnya, dia akan menyiapkan air dalam botol plastic untuk kubawa selama dalam perjalanan kerja. Istriku selalu menyiapkan air putih dalam botol plastic ketika mau berangkat kerja agar aku tidak mengantuk ketika menyetir motor buntutku. Pagi ini bagiku sangat istimewa, bagaimana tidak anakku yang masih berumur 3 tahun, sudah mengambil alih kerjaan bundanya menyiapkan air putih. Diambilnya air putih dari kulkas, diisinya botol plastic kesayangannku pelan-pelan hingga penuh. “iki yah” tangan mungil dan halus itu mengulurkan botol yang penuh air ke aku. Sambil kupandangi hampir menetes air mataku, kalo tidak mengingat kata “ndang ucul” istilah yang biasa digunakan “kambing yang lepas dari ikatannya”. Pagi itu, seperti biasa kuluangkan waktu bersama anakku bermanja-manja. Jadwal kerjaku minggu ini sangat padat, dan seperti biasa akupun harus menginap diluar kota. Usai mandi dan sarapan pagi seperti biasa aku berpamitan ke istri dan anakku. “Lia, ayah nggak pulang lo ya, makan yang banyak, minum obat, istirahat yang cukup biar cepat sembuh”, Ujarku. “he oh” jawabnya seperti biasa singkat. Sudah 3 hari ini kondisi anakku sakit flu dan batuk, kalo malam batuknya “ngiklik” nggak bisa tidur.
Pagi yang sangat istimewa “ Morning Special”, walaupun sampai kutulis kisah pendek ini minumanku dalam botol belum habis akan tetapi, peristiwa pagi ini sangat berkesan dihatiku. Biasanya kalo anakku sakit, selalu kuluangkan waktu mengantarnya ke dokter, pagi ini aku tidak bisa mengantarnya karena pagi-pagi aku harus berangkat kerja, ada agenda sosialisasi Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur di hotel Gotong Royong Trenggalek. Setelah itu 2 hari aku harus ke Surabaya karena ada acara di kota pahlawan tersebut. Setiap hari aku harus menempuh perjalanan 76 KM/PP dari Kediri-Trenggalek menaiki sepeda motor buntut. Dua alasan yang membuatku tetap bertahan menjalani kondisi seperti ini adalah pertama, istriku bekerja sebagai fasilitator comdev di Kediri; kedua, anakku.
Ikatan emosional antara ayah dan anak telah memberikan spirit hidup tersendiri buatku. Cerewetan, celotehan, tingkah polah, usil kayak spongebob dan yang lebih kusenangi mencium bau keringat anakku saat tidur. Saat meneguk air putih itu sangat nikmat, bayangan anakku terus membekas dibenakku. Rasanya ingin selalu kutumpahkan kasih sayang ini untuknya.

“Sayang, maafkan ayah. Hari ini ayah tidak bisa mengantarmu ke dokter. Semoga cepat sembuh ya?”